LB Moerdani, Jendral Yang Berani Usik Soeharto

Ssiem2018 – Cerita mengenai Jenderal TNI Leonardus Benny (LB) Moerdani tidak sempat ada habisnya untuk dikisahkan. Nama LB Moerdani jadi legenda di dunia militer dan intelijen Indonesia.

Kemungkinan tidak ada yang menyangsikan LB Moerdani ialah seorang figur prajurit pemberani. Keberaniannya sebagai prajurit sejati jauh melewati seorang tentara biasa. Medan tempurnya tidak cuma di palagan peperangan peluru dan senjata.

Benny, dia sering dipanggil masuk ke pergerakan Agen Slot kekuasaan negara sesudah kenyang bekerja sebagai prajurit lapangan sepanjang beberapa puluh tahun. Benny masuk pergerakan kekuasaan zaman Presiden Soeharto pada periode Orde Baru.

Namun, Benny tak pernah memakai kekuasaan yang dipunyainya untuk kebutuhan individu atau untuk tekad pribadinya saat di pucuk kekuasaan itu. Ia habiskan waktu, tenaga dan pemikirannya untuk dibaktikan untuk kebutuhan negara. Sebuah keberanian spesial, meremehkan kebutuhan individu.

Dodi Mawardi dalam buku “Belajar Tes Nyali dari Benny Moerdani, Ia Tidak Dapat Dibeli Dengan Uang” menjelaskan Benny mulai mendokumentasikan dianya ke negara saat berumur belia. Umur ingusan yang mayoritas yang lain asyik bermain. Benny kecil telah turut berusaha menantang Jepang, selanjutnya hadapi Belanda bersama teman-temannya yang berumur lebih tua.

“Walau bukan sebuah tersengajaan, Benny kecil bahkan juga dikukuhkan sebagai komandan dari rekan-rekan tuanya itu, karena hanya badannya yang kecil ia kebagian senjata paling kecil dan berlainan sendiri dengan lainnya. Saat itu, Benny kecil kebagian pistol, dan lainnya memperoleh senjata laras panjang. Pemegang pistol umumnya memang jadi komandan. Karena itu jadilah Benny kecil sebagai komandan,” katanya.

Baktinya ke negara bersambung saat opsi tiba setelah Invasi Militer Ke-2 Belanda usai. Benny memperoleh dua opsi, meneruskan aksinya di Tentara Siswa dengan masuk sekolah militer atau meneruskan belajar dalam sekolah umum.

Terlihat lajur hidup Benny memang digariskan untuk berbakti ke negara. Dia putuskan meneruskan sekolah militer. Dari situlah profesi militer Benny Moerdani diawali.

Tidak cuman talenta, dipadukan dengan kekuatan dan keseriusannya saat belajar dan kisah hidupnya hadapi Jepang dan Belanda yang perlu keberanian tingkat tinggi hasilkan Benny Moerdani jadi prajurit handal. Tentara yang siap ditaruh dimanapun serta kapan saja dan pada keadaan apa saja. Psikis baja Benny telah terpupuk sejak awal kali.

Sehabis periode pengajaran tingkat dasar, menengah, dan kelanjutan militer, Benny Moerdani menjelma jadi seorang perwira dan prajurit kuat. Dia sering jadi opsi untuk ditugaskan dalam menumpas beragam perselisihan di Tanah Air. Dimulai dari pembasmian pemberontak PPRI di Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sampai menangani Permesta di Sulawesi Utara.

Kekuatannya berperang, tahan membanting, tanpa sepakat pimpin pasukan dan menangani perselisihan mulai populer di kelompok militer. Berita itu selanjutnya sampai ke telinga Presiden Soekarno.

Berbakti di Semua Medan
Saat terjadi perselisihan di Irian barat dengan Belanda, Benny yang waktu itu berpangkat kapten ditugaskan negara untuk pergi ke situ. Beragam media waktu itu menyampaikan begitu heroiknya pasukan Indonesia yang diturunkan ke situ.

Mereka sudah siap pergi tidak untuk balik lagi. Mereka berani menaruhkan nyawa untuk kebutuhan nusa dan bangsa. sebuah sikap yang mengagumkan, ingat medan yang paling garang di saat itu.

Benny dan pasukannya selanjutnya sanggup menunjukkan dengan jalankan visi negara secara baik, walau harus kehilangan beberapa prajuritnya. Karena kesuksesannya itu, Benny dan pasukannya lalu memperoleh karunia bintang sakti dan peningkatan pangkat mengagumkan.

Gelaran seterusnya dari aksi Benny Moerdani untuk negara ialah saat perselisihan dengan Malaysia. Benny turut dalam operasi penyusupan anti Malaysia di daerah Kalimantan yang tidak kalah garangnya dengan rimba di Irian Barat. Saat itu, Benny menyaru jadi anggota pasukan anti Malaysia.

Di periode itu, Malaysia belum juga merdeka dan Presiden Soekarno memandang Malaysia merdeka sebagai usaha Inggris mengembangkan sayap kolonialismenya. Malaysia cuman jadi boneka penjajah.

“Walau hampir meninggal di situ, pekerjaan Pak Benny masih tetap dipandang sukses di Kalimantan Utara,” papar Dodi Mawardi.

Dodi menjelaskan perubahan kekuasaan memberi karunia tertentu buat Benny. Penempatannya di luar negeri mengetes kedahsyatan dan keberanian lain dari dianya dalam berbakti ke negara.

Rupanya, di mana saja ditaruh berlian teruslah berlian. Benny masih tetap berkilau. Ia berperanan besar pada proses pembangunan negara dan pemerintah negara teman dekat untuk tergabung di dalam organisasi namanya ASEAN.

Benny yang selanjutnya memberikan keyakinan beberapa negara ASEAN jika Vietnam tidak beresiko. Ia masa datang, kepercayaan Benny itu pada akhirnya bisa dibuktikan. Vietnam menjadi satu diantara kemampuan ASEAN. Kata bekas Presiden Filipina Fidel Ramos, “ASEAN berutang banyak ke Benny Moerdani.”

Sukses memikul beberapa pekerjaan negara, aksi Benny makin komplet dengan mendapatkan keyakinan penuh dari Presiden Soeharto pada tahun 1974. Sekian hari sesudah kejadian Malari, Benny diundang pulang dari tempat dinasnya di Korea Selatan. Semenjak itu, Benny menjadi satu diantara tangan kanan Soeharto dalam keamanan presiden dan keamanan negara.

Dedikasi Benny berpindah dari rimba belantara di Irian, Kalimantan, Sulawesi, dan luar negeri ke pergerakan kekuasaan disekitaran Istana. Benny menjelma menjadi satu diantara orang paling kuat.

Tidak Silau Kedudukan
Sepak-terjang Benny yang berkilau, tidak membuat mempunyai tekad agar semakin dari itu. Benny dikenali tidak silau dengan kedudukan dan tidak bernafsu jadi penguasa. Hal yang pernah didakwakan padanya oleh beberapa faksi.

“Di pikiran Pak Benny, kebutuhan negaralah yang khusus, terhitung kebutuhan Presiden sebagai pimpinan negara,” kata Dodi Mawardi.

Ia mengutarakan kemungkinan cuma Benny petinggi negara yang berani “mengganggu” kekuasaan Soeharto. Tetapi tidak untuk menggantinya. Benny mengingati Soeharto mengenai kekuasaannya yang telah kelamaan. Cuman Benny orang dekat Soeharto yang berani menjelaskan hal itu.

“Sebuah bukti pahit yang harus tetap dikatakan ke pimpinan, karena sebagai seorang intel sejati, Pak Benny tahu benar keadaan lapangan. Sebuah sikap yang berbuah lebih pahit kembali karena selanjutnya Pak Benny “tersisih” dari pergerakan kekuasaan,” papar Dodi Mawardi.

Soeharto rupanya tidak terima dengan sarani dari Benny. Apa yang dikatakan dan diingatkan oleh Benny jadi realita. Soeharto harus terpaksa lengser dengan menyakitkan pada 1998 lewat demonstrasi besar.

Sesudah Soeharto lengser, ia sempat menengok Benny yang terbaring sakit. Soeharto berbicara dengan bahasa Jawa, “Kowe pancen sing benar, Ben. Nek saya manut saranmu, ora koyok ngene.” (Kamu yang benar Ben. Jika saja saya turuti saranmu, kemungkinan kondisinya tidak semacam ini).

Terbujur kurang kuat, Benny cuman dapat menangis memberi respon pengakuan Soeharto. Kalimat itu kabarnya diulang Soeharto saat ada di depan mayat Benny.

Sampai akhir hayatnya, Benny tak pernah pikirkan tekad pribadinya. Saat ada peluang naik, Benny malah mengusung nama partnernya di TNI, Try Sutrisno jadi Wakil presiden. Saat seseorang Mpo88 repot memburu kedudukan dan kekuasan, Benny Moerdani malah kebalikannya.

Ia tak lupa dengan masa datang bangsa. Peninggalan kepedulian Benny itu saat ini bersiap diambil dan terus akan berbuah selama waktu, yakni melalui pendidian SMA Taruna Nusantara. Peninggalan mahal yang lahir dari keberanian dan nyali seorang prajurit sejati.