Pelecehan Seksual Mahasiswa UNSRI Temui Titik Terang

Ssiem2018 – Kabar pelecehan seksual Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang sempat viral di media sosial Indonesia. Setelah berbagai tekanan yang diberikan, kasus ini mulai mendapatkan titik terang dan keadilan bagi korban. Menuru Hisar Siallagan yang merupakan Direktur Reserse Agen Slot Kriminal Umum dari Polda Sumsel Kombel Pol.  Kepolisian Daerah Sumatera Selatan atau Polda Sumsel telah resmi menetapkan AR sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelecehan seksual ini.

AR merupakan seorang dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau FKIP di UNSRI. Oknum dosen ini sekaligus merupakan dosen pembimbing dari korban. Setelah penetapan AR sebagai tersangka tersebut. AR dipanggil ke Polda Sumsel dan menjalani pemeriksaan kurang lebih selama 9 jam.

Melalui proses tersebut, tim penyidik Polda Sumsel menyatakan telah mendapatkan cukup bukti dan keterangan terkait kasus ini. AR sendiri telah mengakui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan yang tidak pantas dan melecehkan mahasiswa bimbingannya tersebut. Berkedok modus bimbingan skripsi terhadap korban. Peristiswa tersebut ternyata sudah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan berulang kali.

Kronologi Kejadian Kabar Pelecehan Seksual Mahasiswa UNSRI

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa kejadian pelecehan seksual tersebut telah terjadi sejak lama. Bermula pada tanggal 25 September 2021, saat itu korban berniat meminta tanda tangan untuk skripsi korban. Korban mendatangi pelaku di Laboratorium Sejarah FKIP UNSRI di Kampus Indralaya, Organ Ilir.

Berkedok dengan bimbingan dan tanda tangan skripsi tersebut, pelaku malah mengambil kesempatan untuk melecehkan korban. Korban mendapatkan pelecehan dari AR mulai dari pelecahan secara verbal sampai secara fisik. AR mengakui bahwa ia mencoba untuk meraba-raba tubuh korban dan mencoba mencium korban.

Kabar pelecehan seksual ini membuat AR terancam hukuman 9 tahun penjara. Pelaku AR dikenakan pasal 289 KUHP yang memuat mengenai pencabulan dan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan. Serta pasal 294 ayat (2) poin pertama dan kedua dalam KUHP tersebut.

Sempat Mendapatkan Tekanan dari Pihak Kampus

Tidak bisa ditampik, peran warganet sangat besar dalam mendesak kabar pelecahan seksual ini ditangani oleh kepolisian. Kasus pelecehan ini sempat menjadi trending di media sosial Twitter. Walaupun sudah mendapatkan banyak dukungan namun mendapatkan keadilan untuk kasus yang dialaminya ini bukan perkara mudah bagi korban.

Sebelum kasus ini mulai mendapatkan titik terang. Korban sempat mendapatkan berbagai tekanan dari pihak kampus. Mulai dari surat pemanggilan ke kantor Dekan sendirian dan tidak boleh ditemani oleh siapapun. Kemudian namanya yang tanpa koordinasi tertentu bisa hilang dari daftar mahasiswa yang akan melalui proses yudisium.

Banyak warganet yang memberikan dukungan pada korban pelecehan seksual. Dari tanggapan warganet, dapat diketahui bahwa kasus pelecehan seksual bukanlah hal baru di lingkungan kampus.

Hal ini juga yang mendorong Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim mengeluarkan peraturan menteri untuk melindungi korban pelecahan seksual di lingkungan kampus. Peraturan yang dikeluarkan oleh Nadiem Makarim pun mengundang kontroversi sendiri. Beberapa pihak menolak kehadiran peraturan tersebut dengan alasan mendorong terjadinya seks bebas dan lain sebagainya.

Sebagian lain terutama mahasiswi sangat mendukung kehadiran peraturan tersebut. Karena dengan peraturan tersebut, mahasiswi dan mahasiswa yang menjadi korban pelecehan seksual mendapatkan kejelasan dan perlindungan hukum.

Korban pelecehan seksual mahasiswi UNSRI ini terbilang beruntung karena proses hukumnya mendapatkan spotlight dari media dan warganet. Masih banyak kasus-kasus Mpo88 pelecehan seksual di kampus yang dialami oleh mahasiswi yang belum mendapatkan keadilan dan kejelasan hukum.